Minggu, 08 Juni 2014

10 Alasan Anda Selalu Bokek

Anda punya pekerjaan tetap, bahkan mungkin Anda punya pekerjaan yang bergaji besar, tapi entah kenapa Anda selalu kekurangan uang. Seharusnya Anda banyak menabung dan tidak boros, tapi Anda selalu gagal. Anda selalu berharap kondisi keuangan membaik, tapi utang Anda malah menumpuk. Apakah itu semua terjadi pada Anda?

Daripada menunggu kondisi keuangan Anda membaik secara ajaib, sekarang waktunya mencari penyebab tragedi keuangan Anda. Mungkin saja penyebab semua masalah finansial tersebut adalah kelakuan Anda sendiri. Dan berikut akan kami berikan 10 penyebab masalah keuangan. Ikuti saran kami untuk memperbaiki keuangan Anda...

1.    Anda putus sekolah
Orangtua selalu rewel tentang pentingnya sekolah? Dan mereka sangat sangat benar. Selisih total gaji seorang lulusan SMA dan sarjana sangat mengerikan. Setelah berkarier selama 40 tahun seorang pemegang gelar sarjana akan mempunyai penghasilan total lebih banyak Rp11 miliar rupiah dibandingkan dengan mereka yang hanya lulus SMA – gaji total seorang sarjana kira-kira Rp24 miliar sedangkan lulusan SMA hanya Rp13 miliar, menurut proyeksi data U.S. Census Bureau. Jika Anda punya gelar S-2 maka angkanya akan naik hingga Rp28 miliar.

Kembali bersekolah tidak menjamin penghasilan besar. Jika Anda memutuskan untuk kembali bersekolah, pikirkan juga jurusan apa yang berpotensi mendapat gaji besar. (Contoh: coba pertimbangkan jurusan keuangan, farmasi, keperawatan, atau apa pun yang berhubungan dengan komputer). Pertimbangkan juga besar biaya pendidikan tersebut. Cara yang paling benar adalah mencari pinjaman pembiayaan sekolah dengan perkiraan jumlah pinjaman Anda tidak lebih besar dari total pendapatan Anda pada satu tahun pertama pekerjaan Anda. Coba cari informasi sebanyak-banyaknya tentang daftar sekolah dengan biaya rendah.

2.    Mengikuti gaya hidup orang lain
Teman Anda menggunakan Prada, rekan kerja Anda ke kantor naik Porsche dan tetangga Anda pindah ke apartemen mewah. Jika mereka bisa memiliki semua itu, Anda pasti berpikir ‘Kenapa saya tidak bisa?’ Tapi memangnya perlu begitu? 

“Mengikuti gaya hidup orang lain adalah sebuah jebakan,” kata J.D. Roth pendiri GetRichSlowly.org, sebuah blog keuangan pribadi.

Intinya, jangan mengikuti gaya hidup di luar kemampuan Anda. Knight Kiplinger menulis dalam The Invisible Rich bahwa“Penghalang terbesar menjadi kaya adalah Anda sudah hidup seperti orang kaya, bahkan ketika Anda belum kaya.” Jadi, daripada membeli mobil mewah dengan cicilan besar, belilah mobil yang sesuai kantong, atau pertimbangkan membeli mobil bekas, atau pilihan yang paling murah, kendarai mobil Anda sampai benar-benar tidak bisa dipakai. Dan ketika Anda berencana membeli rumah, pastikan Anda masih bisa menabung 20 persen gaji Anda dan pastikan besarnya cicilan tidak lebih dari 28 persen dari total gaji bulanan Anda.

3.    Tidak bekerja keras
Lain kali jika ada orang yang bertanya, “Apakah kamu pekerja keras atau bukan?”, jangan tertawa. Kemungkinan besar jawabannya adalah Anda memang tidak bekerja keras – dan Anda bisa semakin miskin karenanya. Sikap malas mengerjakan hal-hal di luar job description Anda akan berakhir dengan gaji kecil dan karier yang suram, kata perencana keuangan bersertifikat dan penulis ‘Rich Habits: The Daily Success Habits of Wealthy Individuals’ Tom Corley.

Untuk menjadi yang terdepan, jangan hanya bisa bekerja tapi bekerjalah dengan baik. “Tidak ada kata-kata yang pas mencerminkan Anda hebat selain hasil kerja Anda yang berkualitas tinggi,” kata Karen Elizaga pelatih eksekutif dan penulis ‘Find Your Sweet Spot: A Guide to Personal and Professional Excellence’. Jangan berhenti di sana. Pastikan atasan Anda mengetahui prestasi Anda dengan mendokumentasikan nilai lebih yang Anda berikan, apakah itu melalui klien baru yang Anda dapatkan atau menyelesaikan proyek dengan biaya lebih rendah. Setelah kesuksesan Anda menumpuk, saat itulah Anda bisa meminta naik gaji atau promosi, karena ada kemungkinan Anda tidak akan mendapat semua itu jika Anda tidak punya prestasi, kata Elizaga. Pastikan untuk menjaga hubungan baik dengan atasan, serta dengan orang di dalam dan di luar perusahaan. Jika Anda butuh skill tambahan, carilah informasi apakah perusahaan Anda bersedia untuk membiayai pelatihan untuk Anda.

4.     Anda punya kebiasaan buruk
Anda merokok, suka mabuk, suka fast food dan tidak pernah berlari jika tidak dikejar anjing? Mungkin saja kondisi kesehatan Anda tidak baik tapi setidaknya Anda bisa bersenang-senang, iya kan? Kemungkinan besar kondisi keuangan Anda sama tidak sehatnya, karena kebiasaan buruk adalah pemborosan uang dan itu sama sekali tidak menyenangkan. J.D. Roth mengatakan beberapa orang yang dia kenal dan memiliki masalah keuangan pasti memiliki beberapa kebiasaan buruk.

Tinggalkan kebiasaan buruk itu dan niscaya keuangan Anda akan semakin sehat. Jika rokok sebungkus rokok harganya Rp15 ribu, maka Anda akan mengabiskan Rp5,475 juta dalam setahun dengan perkiraan Anda menghabiskan sebungkus rokok dalam sehari. Ditambah biaya resiko kesehatan dari sebungkus rokok sekitar Rp350 ribu, kata American Cancer Society. Jadi dalam setahun Anda menghabiskan sekitar Rp127 juta. Demikian juga dengan kebiasaan minum alkohol, meski hanya minum sedikit. Hanya dengan dua gelas wine untuk setiap harinya, maka dalam setahun Anda akan mengabiskan lebih dari Rp10 juta dan itu hanya perkiraan jika Anda hanya minum wine murah, jika Anda memilih minum Bordeaux di bar, maka bersiaplah untuk membayar lebih.

5.    Anda belanja dengan impulsif
Kita semua pernah merasakannya: Ketika Anda sedang mengantre di kasir ada sesuatu yang menarik mata dan Anda langsung mengambilnya tanpa berpikir. Sebuah survei mengatakan bahwa 1 dari 5 orang yang berbelanja di supermarket melakukan pembelian impulsif di kasir. Membeli sebungkus permen karet memang tidak akan menghabiskan tabungan Anda, tapi terlalu sering membeli barang di luar rencana pastinya akan menjadi masalah kata perencana keuangan bersertifikat dan penulis blog Good Financial Cents Jeff Rose. Yang luar biasa adalah kita sering mendengar ada banyak orang yang terlilit masalah finansial karena belanja secara impulsif.

Agar dapat menguasai keadaan, catat pengeluaran Anda selama sebulan untuk mengetahui berapa banyak uang yang Anda habiskan pada barang-barang yang tidak penting. Anda tidak harus menghentikan semua kebiasaan berbelanja Anda, yang harus Anda lakukan adalah menentukan seberapa besar uang yang Anda bisa keluarkan setelah membayar berbagai tagihan bulanan dan menyisihkan sebagian dana untuk tabungan. Lalu, setiap kali Anda berbelanja, buat daftar belanjaan dan berbelanjalah sesuai dengan daftar tersebut. Untuk menghindari godaan berbelanja, berhentilah berlangganan email produk-produk terbaru atau melihat serta berselancar ke situs tempat belanja saat Anda merasa bosan.

6. Jangan berharap pada lotre
Anda membeli tiket lotre setiap pekan dan berharap mendapat peruntungan. Teruslah bermimpi. Perbandingan memenangkan lotre adalah 1 berbanding 175 juta. Corley dalam bukunya ‘Rich Habbits’ bahkan mengungkapkan bahwa 77% orang yang mengalami masalah keuangan malah bermain lotre setiap pekan. Kebiasaan membeli lotre sekitar Rp200 ribu per pekan membuat Anda kehilangan sekitar Rp10,4 juta setiap tahunnya. Sebaliknya, dia menemukan hanya 6% dari mereka yang sukses secara finansial bermain lotre setiap pekannya. Mengapa? Karena menurutnya orang sukses tidak menyandarkan kesuksesannya pada peruntungan. Harus berusaha sendiri, dong!
    
Daripada menghabiskan puluhan juta pada lotre lebih baik Anda menyimpannya dalam bentuk tabungan pensiun. Investasi sekitar Rp10,4 juta setahun dan tingkat bunga 7% per tahun, simpanan Anda yang tidak dikenai pajak akan mencapai sekitar Rp10,5 miliar setelah 30 tahun. Jumlah yang sepadan, mengingat kontribusi keseluruhan Anda yang mencapai sekitar Rp31,2 juta. 

7. Anda membuat pembayaran tagihan kartu kredit seminimal mungkin
Rose, penulis blog Good Financial Cents, mengatakan bahwa banyak dari klien yang mengikuti program perencanaan keuangannya pada awalnya tidak mengetahui seberapa besar utang yang mereka miliki, bahkan tidak memiliki rencana untuk melunasi utang mereka. Hasilnya, banyak yang membuat pembayaran seminimal mungkin tanpa mempertimbangkan dampaknya. Bayangkan saja jika Anda membayar tagihan bulanan kartu kredit (2% dari batas nilai kartu kredit) senilai Rp50 juta dan bunga sebesar 15%, maka butuh 31 tahun untuk melunasi semua utang, dan Anda akan membayar hampir sebesar Rp80 juta dalam bentuk bunga hanya untuk saldo sebesar Rp50 juta.
    
Mintalah kepada bank penerbit kartu kredit Anda apakah mereka bisa mengurangi tingkat bunga Anda agar Anda bisa menjadi pelanggan setia mereka. Bahkan jika Anda melanjutkan pembayaran dari saldo Rp50 juta, potongan bunga sebesar 11% dari yang sebelumnya sebesar 15% dapat memangkas periode waktu pelunasan selama sembilan tahun dan mengurangi beban pembayaran hampir sebesar Rp40 juta. Cara lainnya adalah bekerja keras dan meningkatkan pembayaran Anda sebesar Rp2,5 juta per bulan, membuat tagihan saldo Anda sebesar Rp50 juta dapat dilunasi hanya dalam beberapa tahun dan dengan jumlah bunga kurang dari Rp8 juta. Ya, Rp2,5 juta untuk jangka pendek dapat memperberat anggaran Anda, namun Anda bisa menghemat bunga jutaan rupiah yang dapat Anda alihkan untuk membuat usaha dibandingkan membayar utang. 

8. Anda tidak memiliki tujuan yang jelas
Manusia selalu berharap menjadi kaya dan itu wajar. Meski demikian Corley mengungkapkan ada perbedaan besar antara harapan dan tujuan. Orang-orang kaya yang ia survei untuk ‘Rich Habits’ menganggap tujuan sebagai sesuatu yang membutuhkan usaha agar dapat diwujudkan. Namun, hanya 5% dari mereka yang disurvei Corley, dengan pendapatan rumah tangga sebesar Rp35 juta atau kurang dan aset cair sebesar Rp5.000.000 atau kurang, yang pernah menetapkan tujuan keuangan tahunan mereka dan hanya 2% dari mereka yang menghabiskan setahun atau lebih untuk mengejar tujuan mereka.

Anda harus spesifik (dan realistis) semaksimal mungkin saat menentukan tujuan keuangan Anda. Jika tidak Anda tidak akan memprioritaskan pengeluaran Anda, jadi memanfaatkan uang Anda juga sama baiknya dengan rencana lain. Ambil contoh Anda ingin membeli rumah. Jangan buat rencana yang tidak jelas ketika menabung untuk membayar uang muka. Sebaliknya, niatkan diri untuk menabung setiap bulan, anggap saja, sebesar Rp2,5 juta sebulan, yang bisa Anda sisihkan dengan memangkas pengeluaran. Pindahkan uang yang Anda simpan dari rekening harian ke rekening tabungan khusus sampai Anda mendapatkan jumlah uang muka yang cukup untuk membayar uang muka. 

9. Bergaul dengan orang yang tidak tepat
Ketika Anda masih anak-anak, ibu Anda selalu mengingatkan Anda untuk tidak bergaul dengan orang yang tidak baik bukan? Tentu saja, nasihat itu masih berlaku meski Anda telah dewasa, nasihat itu bahkan juga berlaku untuk keuangan Anda. Sulit untuk memantapkan status keuangan Anda jika Anda bergaul dengan orang-orang yang memiliki masalah keuangan, ungkap Roth dari GetRichSlowly. Alasannya Anda cenderung terbawa keadaan saat bersama mereka.

Roth mengungkapkan bahwa ketika ia sempat terjerembap dalam utang, ia menghabiskan sebagian besar waktunya dengan orang-orang yang juga memiliki banyak utang. Namun hal yang membantunya berhasil mengendalikan masalah keuangannya adalah bergaul dengan orang yang sukses mengatur keuangan mereka. Ketika ia mendengar orang-orang berbicara mengenai keputusan finansial yang mereka buat secara bijak –  dengan pilihan praktis, seperti menyiapkan dana cadangan – Roth meminta nasihat dari mereka dan berusaha terus menjalin hubungan yang baik. Penting untuk memiliki panutan atau mentor, ujarnya. Mintalah pendapat orang yang pandai di tempat kerja Anda, kerabat atau bahkan teman sekelas Anda yang telah sukses.

10. Anda PEMALAS
Ada hari ketika Anda tidak ingin melakukan apa-apa selain bermalas-malasan sambil menonton TV atau berselencar di dunia maya. Namun jika Anda terus saja melakukan hal serupa maka Anda hanya akan menyia-nyiakan waktu Anda yang berharga. Penelitian Corley untuk ‘Rich Habits’ menemukan bahwa 77% dari mereka yang mengalami masalah keuangan dalam sehari menghabiskan satu jam atau lebih menonton TV dan 74% menghabiskan satu jam internetan. Sebaliknya, Corley mengungkapkan bahwa sebagian besar kalangan yang sukses secara finansial menghabiskan waktu mereka untuk meningkatkan kemampuan diri, menjadi sukarelawan, melakukan pekerjaan sampingan atau mengejar impian mereka yang berujung pada keuntungan finansial.

Jangan biarkan ketakutan, kemalasan atau keraguan membuat Anda ongkang-ongkang kaki di sofa empuk. Langkah kecil untuk memanfaatkan waktu secara bijak bahkan bisa meningkatkan kesejahteraan finansial Anda. Bereskan barang tak terpakai yang bisa dijual lagi. Ubah hobi menjadi kegiatan yang menambah pendapatan. Atau berbagi indekos untuk menghemat pengeluaran.

Sumber : https://id.she.yahoo.com/10-alasan-anda-selalu-bokek-004130334.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar